Minggu, 27 Februari 2011

Jika Kamu Sebut Aku "Pacar"

Sehati dan sepikir itu penting. Pelajaran baru buat ku.
Kalau tidak, ya jadinya begini..
Aku sebut sebagai keterbukaan, dia sebut sebagai hal yang tidak perlu dibicarakan.
Aku sebut sebagai ceritakan semua, dia sebut sebagai tidak penting.
Aku sebut sebagai (ingin) diperhatikan, dia sebut sebagai artinya bertemu.
Aku hanya ingin kamu tahu, bukan semua itu..
Aku hanya ingin diperlakukan berbeda, bukankah aku sedikit lebih spesial dari yang lain? (jika memang benar begitu)

Apakah suatu kesalahan jika kamu menuruti saranku? aku tahu kamu mengerti keadaan tubuhmu sendiri, tapi jika kamu katakan kau sakit, itu artinya istirahat bagi ku, bukan malah berkeliaran seperti kuda lumping dan itu menjadi masalah baru bagimu, "cerewet" itu kata mu. Tak apa, aku lakukan itu karena aku peduli padamu.

Apakah suatu kesalahan jika kamu ceritakan semua hal remeh yang terjadi pada mu kepada ku? (bukankah aku "teman terdekat" mu? jika kata mu begitu) aku seperti ember, yang siap menampung semua cerita mu yang selalu kamu tidak anggap penting untuk menceritakannya pada ku, dan pada akhirnya kamu lebih senang bercerita pada sahabat mu. Kalau sahabat mu saja bisa tau lalu aku tidak, apa aku tidak lebih "dekat" dibandingkan mereka?

Apakah suatu kesalahan jika kamu bercerita, "hari ini aku berkenalan dengan seorang wanita" jika diantara kalian tidak ada hubungan apa-apa? Cara berpikirku adalah, jika kamu tidak cerita, berarti memang ada apa-apa diantara kalian.

Dan bisakah kamu bagi waktu mu? aku tahu kamu sibuk dengan segala kegiatan mu. Bersosialisasi dengan teman-teman mu, ke bengkel, dan bahkan ketika kamu membuka internet dan membaca ini.

Bisakah ada waktu untuk ku? waktu setidaknya hanya untuk sekedar meng sms ku?
Bisakah kamu dengarkan saranku jika kamu ketika kamu bilang badan mu "sedang sakit"? tidak bisakah kamu beristirahat?
Bisakah kamu ceritakan bahkan hanya sekedar ban motormu yang kempes ditengah perjalanan pulang tadi?
Bisakah kamu ceritakan siapa saja teman - teman wanitamu di facebookmu jika memang kalian tidak ada apa-apa?
Bisakah kamu peluk aku dan katakan "kamu satu-satunya" dan membuatku merasa "aman" ditengah banyaknya teman perempuan mu?

Tidakkah kamu tau, kadang hati ini ingin meledak ketika aku tau kamu berhubungan dengan perempuan lain yang aku anggap mungkin saja bisa membawamu pergi dari ku?

Bisakah kamu menghargai setiap nafasku di samping mu?

Sayang, tidak kah kau tau di balik senyumku, aku kesepian, definisi yang tidak pernah bisa ku ungkapkan. Hargai aku lebih dari teman-temanmu..

Karena aku tak pernah tau, entah sampai kapan aku bisa berada di sampingmu. Bisa selamanya, atau hanya mungkin beberapa bulan kedepan..




salam hangat,

wanita yang kau sebut "pacar".

Selasa, 22 Februari 2011

Wind Beneath My Wings

It must have been cold there in my shadow
to never have sunlight on your face.
You were content to let me shine, that's your way,
you always walked a step behind.

So I was the one with all the glory,
while you were the one with all the strength.
Only a face without a name,
a beautiful smile to hide the pain.

Did you ever know that you're my hero,
and everything I'd like to be?
I can fly higher than an eagle,
cos you are the wind beneath my wings.

It might have appeared to go unnoticed,
but I've got it all here in my heart.
I want you to know I know the truth, of course I know it,
I would be nothing without you.

Fly, fly away,
you let me fly so high.
Fly so high against the sky, so high I almost touch the sky.
Thank you God for you,
the wind beneath my wings.

Minggu, 20 Februari 2011

Renungan Sebenarnya Maksud Ayah Baik Loh....

Biasanya, bagi seorang anak yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya. Akan sering merasa kangen sekali dengan Ibu. Lalu bagaimana dengan Ayah?

Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaan kita setiap hari, tapi tahukah kita, jika ternyata Ayah lah yang mengingatkan ibu untuk menelpon kita?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, ibulah yang lebih sering mengajak kita bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kita, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu kita tentang kabar kita dan apa yang kita lakukan seharian?

Pada saat kita masih seorang anak kecil. Ayah lah yang biasanya mengajari buah hati kecilnya naik sepeda. Karena Ibu takut anak yang di sayanginya terjatuh lalu terluka. Kemudian Ibu bilang, “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya.”  Dan setelah Ayah mengganggap kita bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepeda kita.

Tapi sadarkah kita?

Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkan kita, menatap kita, dan menjaga kita mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu si kecil nya PASTI BISA. Pada saat kita menangis merengek meminta boneka atau mainan mobil-mobilan yang baru, Ibu menatap kita dengan iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas, “Boleh, kita beli nanti, tapi bukan sekarang.”   Tahukah kita, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kita menjadi anak yang MANJA dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi.

Saat kita sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata,“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.   Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihati kita dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaan kita.

Ketika kita sudah beranjak remaja…
Kita mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan, "TIDAK BOLEH!"


Tahukah kita, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjaga kita!”

Karena bagi Ayah, kita adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga.  Setelah itu kita marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetok pintu dan membujuk kita agar tidak marah adalah Ibu. Taukah kita, bahwa saat itu Ayah sedang memejamkan matanya dan menahan gejolak di dalam batinnya. Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti kemauan kita. Tapi lagi-lagi dia HARUS menjaga kita.

Ketika saat seorang pacar mulai sering menelpon kita, atau bahkan datang ke rumah untuk menemui kita, Ayah akan memasang wajah paling lembut sedunia. :)

Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kita yang sedang ngobrol berdua di ruang tamu. Sadarkah kita, jika hati Ayah sedang merasa "cemburu!” 

Saat kita mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untuk kita, kita akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggu kita pulang dengan hati yang khawatir. Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut.  Ketika melihat si kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahi kita.

Sadarkah kita, bahwa ini karena hal yang di  ditakuti Ayah akan segera datang?
“Bahwa si kecil nya akan segera pergi meninggalkan Ayah”

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksa kita untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depan kita  nanti. Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukung kita saat pilihan kita tidak sesuai dengan keinginan Ayah.

Ketika kita menjadi anak dewasa. Dan kita harus pergi kuliah di kota lain. Ayah harus melepas kita di bandara. Tahukah kita bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memeluk kita? Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini dan itu, dan menyuruh kita untuk berhati-hati. Padahal Ayah  sekali menangis seperti Ibu dan memeluk kita erat-erat.

Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundak kita, kemudian berkata “Jaga dirimu baik-baik ya nak.

Ayah melakukan itu semua agar kita KUAT tidak menjadi cengeng. Kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.


Disaat kita butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupan kita, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah. Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaan kita bukan lagi sekedar meminta boneka dan mainan baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kita inginkan. Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah, “Tidak. Tidak bisa!"  Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya nak, nanti Ayah belikan untukmu”.


Tahukah kita bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum.

Saatnya kita diwisuda sebagai seorang sarjana.  Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untuk kita. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat, “ Si kecil nya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang” 

Dan sampai pada saat seorang belahan jiwa kita datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambil kita darinya. Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin.

Karena Ayah tahu…
Bahwa lelaki/wanita itulah yang akan menggantikan posisinya dan perhatiannya nanti.

Dan akhirnya…
Saat Ayah melihat kita duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang yang mengasihi kita, Ayah pun tersenyum bahagia.


Apakah kita tahu?

Di hari yang bahagia itu Ayah pergi ke belakang panggung sebentar, dan menangis. Ayah menangis karena Ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa. Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata, “Ya Tuhan tugas ku telah usai dengan baik. Si kecil ku yang lucu dan ku cintai telah menjadi seseorang yang luar biasa. Bahagiakan lah ia bersama pasangannya.”

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatangan kita bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Dengan rambut yang telah dan semakin memutih serta badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjaga kita dari bahaya. Ayah telah menyelesaikan tugasnya. Ayah, Bapak, atau Papa kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat bahkan saat ia tidak kuat untuk tidak menangis. 
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakan kita.

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal.


Dan sungguh aku sangat merasa bahagia, saat ini Ayah masih ada disini untuk menemani dan mendampingi ku dan adik-adikku. :)





                                                                                              We ♥ you, Dad

                                                                                  Yogyakarta, 20 February, 2011




                                                                                                     Anakmu

Sabtu, 19 Februari 2011

Cuek bukan berarti segalanya

Sikap seperti ini biasanya di miliki oleh orang2 cuek yang keliatan masa bodo. Tapi bukan berarti di hati mereka itu mereka gak punya cinta. Sikap orang cuek emang biasanya 99% bikin orang bete. Tapi bukan maksud mereka bikin orang bete.

01.  Orang cuek juga bisa cinta sama lawan jenis, cuma cara mereka nunjukinnya emang beda, mereka punya cara sendiri buat nunjukkin rasa cintanya.

02.  Orang cuek emang selalu keliatan nyebelin, apalagi di mata pasangannya. mereka keliatan ga peduli sama perasaan pasangannya. padahal dalam hatinya mereka peduli. sangat sangat peduli. cuma mereka nggak tau gimana caranya nunjukkin rasa peduli itu.

03.  Mereka pengen ngeliat kamu seneng, tapi kenyataannya mereka malah selalu bikin kamu bete gara2 sikap cueknya itu. mereka pengen ngebahagiain kamu, tapi bingung gimana cara yang pas buat bikin kamu bahagia.

04.  Terkadang mereka malah ngelakuin hal yang kamu gak suka berulang kali. itu bukan maksud mereka bikin kamu jengkel, tapi itu emang udah sifatnya yang seharusnya kamu bisa menerima kelemahannya di bidang perhatian.

05.  Kadang orang2 cuek emang keliatan nyebelin di mata pasangannya. mereka gak pernah nunjukin rasa cemburu kalo kamu lagi deket sama cowo atau cewe lain. tapi asal kamu tau, dalam hati mereka rasanya pengen meledak, pengen teriak sekenceng2nya kalo mereka takut kehilangan kamu. tapi mereka gak bisa ngelakuin itu.

06.  Kadang juga mereka keliatan kya ga peduli kalo kamu sedih. padahal sebenernya mereka gak mau ngeliat kamu sedih. rasanya mereka pengen meluk kamu, ngapus air mata kamu, dan bilang,"jangan sedih lagi ya sayang. kan masih ada aku yang sayang kamu." atau kata2 sejenis itu. tapi yang akhirnya keluar dari mulut mereka,"Udah, gak usah nangis. Jangan dipikirin."

07.  Orang2 cuek biasanya jauh dari kata romantis. mereka emang ga bisa ngebuai kamu dengan sikap2 romantisnya. tapi percaya deh, mereka sebenernya berusaha untuk bisa keliatan romantis walaupun bagi kamu itu belom romantis. misalnya mereka berusaha nahan ngantuk buat ngucapin selamat ultah pas jam 12 malem pas hari ultah kamu. atau mungkin bikin kejutan2 kecil yg bagi kamu ga berharga sama sekali. padahal butuh perjuangan buat mereka ngelakuin itu.

08.  Mereka jarang sms atau telpon kamu. bahkan untuk sekedar nanya,"Sayang, lagi ngapain? udah makan belom?" itu rasanya berat banget. tapi bukan berarti mereka gak mikirin kamu. mereka cuma bisa bertanya2 dalam hati. "gimana kabarnya hari ini?" , "dia lagi apa ya?" , "udah makan belom dia ya?" , "lagi sama siapa ya?" mereka cuma nungguin kamu yang ngasih kabar ke mereka. dan waktu kamu udah ngasih kabar, hati mereka rasanya lega karna semua pertanyaan di hatinya udah kejawab.

09.  Yang paling parah, ada orang cuek yang kalo suka sama seseorang, gak mau nunjukin perasaannya ke orang itu. bahkan sampe orang itu cape nungguin pernyataan cinta trus akhirnya punya gebetan baru, mereka cuman gigit jari dan gak bisa ngelakuin apa2 buat nyatain perasaannya kalo mereka bener2 cinta sama orang itu.

10.  Yang terakhir, sebenernya orang2 cuek itu bener2 gak mau kehilangan orang yang disayang, sama kya orang2 normal lainnya. tapi anehnya, mereka gak bisa nahan kamu waktu kamu bilang udah gak tahan sama sikapnya yang cuek. mereka cuma bisa pasrah ngeliat kamu pergi. tapi percayalah, dlm hati mereka, mereka bener2 cinta dan sayang kamu. mereka cuman mau yang terbaik buat kamu. biar kamu bisa bahagia, bukan menderita hidup sama orang cuek kya mereka


Orang cuek juga bisa romantis,
orang cuek juga bisa perhatian!
tapi cuma untuk orang2 tertentu di waktu2 tertentu.

Pulang

Tuhanku
Ku ingin bercerita
Ku tunduk bersujud
Ku mulai berdoa

Lelahnya jiwaku
Beratnya langkahku

Tuhanku
Ku rindu tawaku yang dulu
Kejujuran kebenaran yang dulu ku tahu
Ke mana semua
Sejauh itukah
Ku sesal sudah

Peluklah semua tanyaku
Jawablah dengan cara Mu

Tuhanku
Ku ingin berkelana
Kembali mencari jalan ke rumah
Bukan di sini tempat ku
Bukan mereka yang ku cinta

Hari ini
Ku mengenali
Arti keberanian
Yang menerbangkanku
Di atas semua derita
Dan apa kabarnya

Usai semua sandiwara
Cukup ku berpura pura
Sejujurnya
Hanya dia yang ku cinta
Ke hatinya aku ingin pulang

Pesan Cinta Seorang Ibu untuk Anaknya

Mungkin aku tidak mengerti apa ini isi hati dari ibu ku yang sebenarnya, namun ku coba menebak dan ku rangkai sebuah kata untuk mengungkap apa isi hatinya.. :')


“Dulu, ketika aku menikah, tidak pernah berpikir punya anak seperti apa, gimana menjaganya, biayainya sekolah hingga lulus kuliah nanti… tapi kujalankan saja..
Ketika melahirkan dirinya, hampir diriku menyerah, tapi demi melihatnya lahir ke dunia ini, tumbuh besar dan menjadi anak yang berguna, aku terus berjuang, walaupun harus berkorban diri ini demi kehadiran dirinya di dunia ini.
Dia telah lahir ke dunia ini, pertama kali melihatnya, ada perasaan bergejolak di diriku, aku terharu dan bangga sekali bisa membawanya ke dunia ini, aku berjanji, apapun yang terjadi, bagaimana pun susahnya hidup ini, anak ini harus ku besarkan dengan kedua tangan ku.


Tidak mudah untuk membesarkan dirinya, dia bandel sekali ketika kecil, suka bermain lupa waktu, berteman dengan anak-anak nakal, tidak mau makan, susah disuruh mandi, susah dibujuk tidur waktu malam hari, kadang dia marah dan bentak padaku, kadang dia mengejekku, kadang juga dia menghinaku…
Ketika besar, dia merasa diriku terlalu membatasi dirinya, ini tidak boleh, itu tidak boleh, dia juga merasa aku terlalu kolot, ketinggalan jaman, tidak mengerti apa maunya, tidak setuju terhadap setiap kelakuannya…
Kadang sakit hati sekali diriku ini, tapi ingat ketika pertama kali menggendongnya, ketika melahirkannya, semua sakit ini hilang seketika… dia adalah anakku, anak kesayanganku…
Aku telah berjanji akan membesar dirinya, apapun yang terjadi, rintangan apapun yang kuhadapi, karena dia anakku… Harapanku besar kelak dia bisa menjadi anak yang berguna… Aku cinta padamu, anakku.


kau lah, yang memberikan kekuatan pada diriku, membuatku mau bekerja keras pagi-siang-sore-malam, tidak takut akan sakit, derita.. Karena kehadiran dirimu lah membuat diriku ada artinya, bisa membesarkan dirimu dan mendengarkanmu memanggilku IBU, sungguh senang rasanya hati ini…
Aku tidak berharap banyak, hanya suatu saat, ketika dirimu sudah besar, kamu dapat menjadi anak yang baik, bisa hidup yang enak. Ibu mungkin sudah tua, tidak bisa hidup lama lagi, badanku ini sekarat, kerutan muka sudah banyak, perjalananku tidak lama lagi.


Jika kamu bekerja keras, tidak perlu sampai memberikan rumah yang bagus, uang yang banyak, semuanya itu untuk dirimu saja. Ibu hanya berharap kamu mau menyisihkan sedikit waktumu untuk menemani masa-masa tua ibu, bisa disamping ibu dan ngobrol dengan ibu, itu sudah lebih dari cukup…
Ibu Bangga denganmu, nak, mungkin tidak pernah terucap lewat kata, tapi ini ibu rasakan dari lubuk hati yang dalam… Maafkan jika selama ini ibu pernah marah denganmu, memukulimu, melarangmu ini itu, semua ini demi kebaikanmu, nak

Ibu Cinta padamu… dari dulu, sekarang, dan selamanya…”

Surat untuk mu Ibu

Bu, entah mengapa aku menuliskan ini. Aku tahu ibu mungkin tak akan pernah membacanya. Kalau pun ibu membaca nya, aku tak yakin ibu akan bisa memahaminya. Entahlah, aku ingin saja. Ada desakan dari dalam. Keinginan, itu saja. Bukankah sesuatu kita lakukan tak perlu selalu ada penjelasannya. Iya kan bu?

Bu, saat ini aku terpuruk. Aku merasa bersalah sekali dan merasa berdosa. Merasa bukan lah apa-apa, atau siapa-siapa. Aku sedang terpuruk, Bu. Dan entah lah, mengapa di saat seperti itu aku akan selalu ingat kau Bu. Aku rindu engkau. Selalu saja, selalu begitu. Selalu jika aku ingat kau, aku tak kuasa untuk tidak menangis Bu. Sampai saat ini aku belum bisa memberi sesuatu untuk Ibu, aku belum bisa menjadi sesuatu (meski kau tak pernah minta sesuatu dari ku Bu).

Bu, waktu semakin berjalan ya. Engkau dulu cuma bilang kalau engkau lahir di tahun 1967. Itu berarti hampir 44 tahun yang lalu. Ah ibu semakin menua, tapi ibu tak pernah mau berhenti menjadi ibu. Menjadi ibu adalah karunia terbesar yang diberikan Tuhan, mungkin itu pikiran mu bu. Kami kini semua beranjak dewasa bu. Dan sulung mu ini, aku, telah menginjak semester keempat perkuliahan. Doakan semoga dengan itu sulungmu ini bisa lebih bermanfaat. Bu, aku ingin membahagiakan mu. Yang kutahu doa, tak pernah lupa untuk ibu panjatkan.

Bu, aku tak ingin menangis. Tapi entah mengapa saat aku mulai menuliskan ini, air mata ini mulai menetes. Apakah karena aku belum bisa memberi yang terbaik untukmu, ibu? Bu, bagaimana kabar ibu sekarang? di saat aku jauh dari ibu aku justru selalu ingat ibu. Mungkin ini semua wajar, tapi tidak bagiku, ah akan sangat sulit menjelaskannya bu.

Bu, kadang aku rindu masa kecil ku. Aku rindu saat ibu mengangkat ku tinggi tiap kali ibu selesai memandikan ku. Aku rindu saat ibu mengajak ku bepergian, di sebuah angkutan umum, ibu begitu bangga nya bercerita tentang aku pada penumpang. Ya memang tiap kali di angkutan umum bersama ibu, banyak penumpang yang sering tanya tentang aku. Aku memang mirip anak cina, putih dan sipit. Tapi ibu selalu bangga dengan itu. Ibu tak pernah berkeberatan apabila ada orang yang belum begitu ibu kenal memegangi ku.

Bu, menjadi dewasa adalah menjadi seseorang yang harus berani bertanggung jawab. Dulu sewaktu kecil aku selalu meminta pembenaran dari ibu tiap kali melakukan sesuatu yang tidak biasa. Dan sekarang bu, aku harus memutuskan sendiri tindakan ku. Lalu aku pun harus mempertanggungjawabkan sendiri tindakan ku itu. Sekarang aku harus bisa menjaga diriku sendiri bu. Berat, berat sekali bu. Aku harus bisa menopang kedua kakiku agar tidak tergelincir, menjaga mulutku agar tidak kebablasan. Harus menjaga semuanya bu. Aku membayangkan begitu beratnya ibu harus menjaga ketiga anak ibu.

Bu, kemarin saat terakhir kali aku pulang, ibu mengeluhkan badan ibu sakit. Ibu bilang bahwa ibu sudah keliling ke berbagai dokter tapi belum juga ada hasilnya (apa sekarang sudah baikan bu?). Saat itu aku terdiam bu, aku tak punya jawaban untuk itu, aku hanya menduga-duga apa penyebabnya itu. Ah andaikan aku dokter bu, mungkin aku bisa menjadi lebih bermanfaat bagi ibu kala itu, tapi aku hanya lah seorang mahasiswa sastra, yang pekerjaannya mengotak-atik grammar dan bergelut dengan puisi, novel, dan prosa-prosa. Tak begitu tau masalah penyakit.

Tapi ibu tak pernah sedih kan? Ibu menerima semua penyakit yang diberikan Tuhan itu dengan (ah sekali lagi) senyuman. Bahwa itu ujian Tuhan. Aku takut bu, aku takut saat itu tak dapat kutemui. Aku takut aku belum sempat membahagiakan ibu. Aku takut ibu tak sempat menikmati buah dari perjuangan ibu itu. Aku tahu bu, ketakutanku tak beralasan sekali. Karena mungkin aku bisa saja mendahului ibu, tapi ah tetap saja bu, ketakutan itu, ketakutan melihat kerut diwajah ibu yang kian rata,  dan kemarin, ketakutan melihat langkah ibu yang semakin terhuyung-huyung digerogoti penyakit. Ah aku takut bu. Bahkan semakin takut tiap kali aku mengingat dulu tiap kali ibu mengeluhkan kaki ibu yang sering sakit dan meminta diolesi balsem sambil dipijiti, aku melakukannya dengan malas-malasan sambil bilang "dibuat tidur juga sembuh" (yang langsung engkau balas, "mana mungkin bisa tidur nak kalau kaki sakit  begini"). Padahal bu, padahal engkau selalu ikhlas tiap kali mengurut kaki ku yang keseleo atau sakit.

Bu, apa yang ibu lakukan sekarang? Sudahkah ibu istirahat? sudahkah ibu sejenak mengistirahatkan kaki ibu? Ah engkau memang tak pernah beristirahat bu. Tiap kali kau merebahkan badan, ada saja yang menganggumu (termasuk aku), menanyakan hal-hal kecil, mengadu hal-hal kecil, meminta pertimbangan ini dan itu. Kau memang muara segala hal bu. Semuanya akan terasa menjadi lebih ringan bila dilaporkan kepada mu. Kau selalu menenangkan. Entahlah, mungkin itu senjata yang diberikan Tuhan pada semua ibu di muka bumi. Kau tak perlu banyak berkata-kata, kau cukup memandang, dengan wajah teduhmu, dan ya Tuhan, semuanya terasa ringan kembali. Semuanya seolah bukan lah beban. Semua itu bu, semuanya, membuat aku bertambah sayang pada ibu. Aku mencintaimu bu, walau itu tak pernah terucap. Sama halnya engkau tak pernah mengucap kata cinta pada anak-anakmu, tapi aku tau engkau mencintai kami bu. Kecintaan mu bahkan tak terwakili oleh kata cinta itu sendiri.

Akhirnya hanya itu yang mungkin bisa kuberikan bu. Semuanya menguap. Aku tergugu. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Terlalu banyak kasih sayangmu yang coba aku ceritakan. Terlalu beragam senyummu yang coba aku terjemahkan. Semuanya terlalu sesak. Tak akan cukup jika di goreskan dalam lembaran kertas.

Maafkan anakmu ini bu, karena bahkan sampai sebesar ini masih sering merepotkan mu.
Dan jika waktu bisa berputar ke belakang, sungguh bu, aku ingin kembali terlahir dari rahim mu. Kembali menjadi putri ibu yang mungil itu.
Terima kasih atas kesabaranmu, kasih sayang mu yang tanpa batas,
Terima kasih telah melahirkan ku, merawat ku, menjaga ku hingga aku bisa menjadi seperti sekarang.
Terima kasih ibu.
I YOU MOM




                                                                                                       Yogyakarta, 12 Februari 2011
                                                                                                       Anak Sulung Mu


                                                                                                        Devi